Lompat ke konten
Beranda » Blog » Teori Pengkondisian Klasik Ivan Pavlov (1849 – 1936): Saat Respon Dipengaruhi Eksitasi dan Inhibisi

Teori Pengkondisian Klasik Ivan Pavlov (1849 – 1936): Saat Respon Dipengaruhi Eksitasi dan Inhibisi

Pendahuluan

Teori Pengkondisian Assosiatif Stimulus Response atau yang lebih dikenal dengan Teori Pengkondisian Klasik, dirumuskan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936). Kata klasik yang menjadi nama teori ini merupakan bentuk penghargaan kepada Pavlov karena dianggap sebagai orang yang pertama kali merumuskan teori pengkondisian dan juga untuk membedakan dari teori pengkondisian lainnya. Gagasan Pavlov memiliki andil yang sangat besar dalam teori psikologi aliran behavior yang diperkenalkan oleh John Broadus Watson (1878 -1958).

Pavlov adalah seorang ilmuan yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk penelitian. Pavlov sangat menghargai pengetahuan dan memandang bahwa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan manusia karena dapat membantu manusia untuk mengatasi berbagai masalah yang ada di dunia. Peranan dari ilmuwan menurutnya adalah untuk mengungkap rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Ilmuwan harus mencoba memahami bagaimana alam bekerja dan bagaimana manusia berkembang.

Pavlov lebih tertarik pada fisiologi (cabang ilmu biologi yang mempelajari bagaimana makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan) ketimbang psikologi. Ia memandang ilmu psikologi yang masih baru pada saat itu sedikit meragukan karena menurutnya kurang ilmiah. Namun ia berpikir bahwa response terkondisi dapat menjelaskan berbagai perilaku. Sebagai contoh, mereka yang menarik diri tidak mau berinteraksi dengan dunia luar ternyata menghubungkan stimuli dengan pengalaman yang mungkin pernah mereka alami.

Biografi Singkat Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov adalah seorang fisiolog, psikolog, dan dokter berkebangsaan Rusia. Ia dilahirkan 14 September 1849 di sebuah desa kecil di Rusia Tengah. Keluarganya mengharapkannya menjadi pendeta, sehingga ia bersekolah di Seminari Teologi. Setelah membaca karya Charles Darwin, ia menyadari bahwa ia lebih tertarik dalam bidang ilmiah sehingga ia meninggalkan Seminari dan memilih masuk Universitas St. Petersburg. Di sana ia belajar kimia dan fisiologi, dan menerima gelar doctor pada tahun 1879.

Selain itu pada tahun 1884, ia bekerja sebagai direktur di departemen fisiologi pada Institute of Experimental Medicine di S.P Botkin. Ia melanjutkan studinya dan memulai penelitiannya sendiri dalam topik yang menarik menurutnya yaitu sistem pencernaan dan peredaran darah. Karyanya pun terkenal, dan ia diangkat sebagai profesor fisiologi di Akademi Kedokteran Kekaisaran Rusia. Pada 1904, ia memenangkan Penghargaan Nobel dalam bidang fisiologi atau kedokteran dalam penelitiannya tentang pencernaan.

Pavlov sangat dihormati di negerinya sendiri, baik saat Rusia masih berbentuk kekaisaran mupun Uni Soviet, bahkan di seluruh dunia. Ia adalah orang yang terang-terangan dan sering berseberangan dengan pemerintah Soviet dalam hidupnya, tetapi karena reputasinya, dan juga dukungan masyarakat kepadanya, membuatnya terjaga dan tetap dihormati. Ia aktif bekerja di laboratorium sampai ia meninggal pada tanggal 27 Februari 1936.

Eksperimen Pavlov

Karya yang membuat Pavlov memiliki reputasi sebenarnya bermula saat ia mulai mempelajari proses pencernaan pada anjing, khususnya kaitan antara air liur anjing dan kerja perut. Ia menyadari kedua hal itu berkaitan erat dengan refleks pada sistem hormon otonom. Tanpa air liur, perut tidak membawa pesan untuk memulai pencernaan. Untuk membuktikan pemikirannya, maka Pavlov mulai melakukan eksperimennya dan membagi proses penelitiannya dalam beberapa fase.

FaseStimulusRespon
0Lonceng (Stimulus netral/alami)Tidak berliur (Respon netral/alami)
1Makanan (UCS)Berliur (UCR)
2Lonceng + Makanan (CS +UCS)Berliur (UCR)
3Lonceng (CS)Berliur (CR)

Fase 0, adalah fase dimana anjing diberikan bunyi suara lonceng sebagai stimulus. Ketika itu dilakukan, anjing tidak menunjukkan response sama sekali atau anjing tidak mengerluarkan air liur. Dalam fase ini, Pavlov menyebut suara lonceng sebagai stimulus netral atau stimulus alami, dan anjing tidak berliur sebagai response netral atau response alami.

Fase 1, adalah fase dimana anjing diberikan makanan sebagai stimulus. Ketika anjing diberikan makanan, anjing menunjukkan response mengeluarkan air liur. Pada fase ini, makanan yang diberikan disebut dengan Unconditioned Stimulus (UCS)/stimulus tidak bersyarat/tidak terkondisi. Dan response anjing yang mengeluarkan air liur disebut Unconditioned Response (UCR)/responses tidak bersyarat/tidak terkondisi.

Fase 2, adalah fase dimana anjing diberikan makanan setelah dibunyikan lonceng terlebih dulu. Ketika lonceng dibunyikan lalu makanan diberikan, maka anjing menunjukkan response dengan mengeluarkan air liur. Perlakuan ini dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang. Pada fase ini, lonceng yang dibunyikan dan dipasangkan dengan makanan disebut dengan Conditioning Stimulus (CS)/stimulus bersyarat/terkondisi.

Fase 3, adalah fase dimana anjing hanya dibunyikan suara lonceng tanpa memberikan makanan. Ketika lonceng dibunyikan, maka anjing tetap menunjukkan response dengan mengeluarkan air liur. Pada fase ini, response anjing mengerluarkan air liur akibat penggabungan dua stimulus yang sebelumnya dilakukan secara berulang-ulang disebut dengan Conditioning Response (CR)/response bersyarat/terkondisi.

Teori Pengkondisian Klasik

Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, Pavlov mengajukan beberapa konsep tentang pengkondisian yang disebut dengan Teori Pengkondisian Klasik.

Generalization. Pavlov menemukan bahwa response bersyarat (CR) untuk stimulus yang sebelumnya netral juga bisa menimbulkan response yang sama pada individu/organisme. Pada eksperimennya, jika sebelumnya anjing mengeluarkan air liur ketika lonceng dibunyikan maka anjing akan mengeneralisir dengan menunjukkan response yang sama ketika suara-suara lain yang mirip dengan suara lonceng dibunyikan.

Discrimination: Merupakan batasan dari proses Generalization yaitu ketika individu/organisme tidak lagi menunjukkan response yang sama ketika stimulus netral diberikan. Contoh di atas, anjing akhirnya bisa mengenali perbedaan suara-suara lonceng yang dibunyikan. Mana suara lonceng yang memberikan makanan dan suara lonceng yang tidak memberikan makanan. Anjing akan belajar untuk membedakan suara-suara.

Extinction. Ketika stimulus yang diberikan frekuensinya berkurang maka response berangsur-angsur menurun bahkan mungkin hilang (punah). Kepunahan berlaku apabila stimulus bersyarat (CS) tidak diikuti dengan stimulus tak bersyarat (UCS) lama kelamaan individu/organisme tidak akan menunjukkan response. Contoh diatas, jika bunyi lonceng tidak lagi diikuti dengan pemberian makanan maka lama kelamaan anjing tidak akan mengeluarkan air liur. Namun response bersyarat (CR) dapat kembali lagi apabila pembunyian lonceng (CS) diikuti lagi dengan pemberian makanan (UCS). Jadi ecxtinction tidak berlaku selamanya.

Tingkat Pengkondisian yang lebih tinggi: Pavlov menunjukkan bahwa sekali kita dapat mengondisikan seekor anjing secara solid kepada stimulus tertentu (CS), maka dia kemudian bisa menggunakan stimulus tersebut untuk menciptakan hubungan dengan stimulus lain yang masih netral. Model pengkondisian klasik dapat digunakan untuk membantu dalam memahami perkembangan, pemeliharaan, dan lenyapnya banyak reaksi emosional kita.

Meskipun Pavlov melakukannya terhadap hewan, tapi prinsip-prinsip yang ia temukan berlaku juga untuk manusia. Misalnya, seorang anak yang digigit anjing atau diperlakukan kasar oleh seekor anjing. Ketakutan anak terhadap anjing dapat meluas kepada semua anjing, proses generalisasi. Kemudian anak mendapatkan bantuan dan terapi banyak berinteraksi dengan anjing untuk mengurangi ketakutannya terhadap anjing. Sekarang ia hanya takut terhadap anjing tertentu saja, proses diskriminasi. Seiring waktu, anak telah mengulangi banyak pengalaman positif pada semua anjing, yang mengarah kepada punahnya respons rasa takut terhadap anjing, proses ekstingsi.

Dalam pandangan Pavlov aktivitas psikis sebenarnya merupakan rangkaian aktivitas sistem saraf pusat. Karena itu untuk mempelajari aktivitas psikis, cukup dengan mempelajari refleksnya saja. Aktivitas psikis berhubungan dengan beberapa titik di otak, apakah cenderung merangsang (eksitasi) atau menghambat (inhibisi) aktivitas otak. Eksitasi dan inhibisi adalah dua konsep utama dalam fungsi sistem saraf. Pada kondisi tertentu eksitasi dan inhibisi akan menentukan bagaimana makhluk hidup/organisme merespons lingkungannya.

Pola eksitasi dan inhibisi yang menjadi karakteristik otak ini oleh Pavlov disebut Cortical Mosaic Cortical mosaic pada suatu momen akan menentukan bagaimana organisme merespon lingkungan. Cortical mosaic mengacu pada organisasi kompleks dari neuron atau sel saraf dalam korteks otak. Korteks otak adalah lapisan luar otak yang terlibat dalam pemrosesan informasi sensorik, kognitif, dan motorik. Istilah mosaic digunakan untuk menggambarkan pola atau susunan yang kompleks dan bervariasi dari kelompok sel-sel saraf.

Pemahaman tentang cortical mosaic akan membantu menjelaskan bagaimana korteks otak memproses dan mewakili informasi dari dunia luar. Pemetaan dan representasi informasi ini berkontribusi pada kemampuan otak untuk mengenali pola, memahami lingkungan, dan merespons terhadap stimulus yang beragam.

Perihal eksitasi dan inhibisi serta prinsip pengkondisian klasik Pavlov memiliki keterkaitan dalam konteks kepribadian, jika kita melihatnya dari sudut pandang respons emosional dan perilaku individu. Misalkan seseorang mengalami kondisi tertentu di mana stimulus bersyarat (CS) dipasangkan dengan stimulus tidak bersyarat (UCS), stimulus tersebut dapat menyebabkan respons yang bersifat eksitasi atau inhibisi. Jadi individu dapat mengembangkan respons emosional atau perilaku tertentu terhadap situasi atau objek yang secara awalnya tidak memiliki arti emosional.

Jika kita membawa prinsip ini ke dalam konteks teori kepribadian, kita dapat melihat bagaimana respons eksitasi atau inhibisi terhadap stimulus tertentu dapat mencerminkan karakteristik atau ciri kepribadian individu. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami respons eksitasi terhadap stimulus tertentu mungkin memiliki ciri kepribadian yang lebih ekstrovert atau bersemangat, sedangkan respons inhibisi dapat dikaitkan dengan sifat yang lebih introvert atau hati-hati.

Penutup

Pavlov lebih dikenal perannya dalam konteks pengkondisian klasik atau pembelajaran asosiatif, namun teori yang ia rumuskan memberikan peran besar dalam dunia psikologi khususnya aliran behaviorisme. Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang menekankan pada perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif. Aliran ini menolak atau mengabaikan elemen-elemen yang tidak dapat diamati seperti pikiran, perasaan, kesadaran, atau ketidaksadaran, dan lebih berfokus pada response terhadap stimulus eksternal.

Konsep STIFIn mengadopsi teori Pavlov khususnya tentang bagaimana eksitasi dan inhibisi mempengaruhi response individu. Jika Pavlov berpendapat bahwa aktivitas psikis ada kaitannya dengan aktivitas sistem saraf pusat yang berada di otak, eksitasi dan inhibisi juga merupakan dua konsep utama dalam fungsi sistem saraf, maka keduanya bisa mencerminkan ciri kepribadian genetik seseorang. Namun ini adalah pendekatan konseptual dan interpretatif. Pavlov sendiri tidak secara eksplisit mengembangkan teori kepribadian, dan teori kepribadian lebih sering dikaitkan dengan psikolog lain seperti Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, atau teori kepribadian lainnya.

Dalam konsep STIFIn, kelima mesin kecerdasan STIFIn juga memiliki kecenderungan response eksitasi atau inhibisi ketika menerima stimuli dari luar. Sensing dan Feeling memiliki eksitasi tinggi, artinya sangat mudah terpengaruh oleh stimuli dari luar. Sementara Thinking dan Intuiting memiliki eksitasi rendah sehingga cenderung sulit menerima stimuli dari luar. Sensing dan Intuiting memiliki inhibisi rendah, artinya tidak ada hambatan dalam dirinya untuk tergerak ketika menerima stimuli. Sementara Feeling dan Thinking memiliki inhibisi tinggi sehingga cenderung memiliki hambatan dari dalam dirinya untuk tergerak. Dan untuk mesin kecerdasan Insting cenderung meresponse dengan spontan ketika menerima stimuli. Wallahu A’lam Bisshowab.

Tinggalkan Balasan

error: